-->

Tuesday, May 20, 2014

Reisha /ea

MORNING BLOGGERs selamat hari kelulusan:"3333 mau pamer hari ini aku libur bwahahahhaahhahahahaha. gak tau sekolahku lagi baik bgt atau gmn tapi LIBUR men:") seneng bgt. dan mei emang banyak libur so yeah (?).

karena nggak ada ide buat posting curhat2 kayak dulu, dan emang nggak ada yang penting, aku mau ngepost cerpen aja ya.......... /eangepostcerpen /padahalgabisabuat

ini sebenernya cerpen yang terpaksa ku buat gara-gara ada tugas bahasa indonesia, disuruh membuat cerpen satu kelas (?)..... /failtatabahasa

tapi sebenernya aku suka buatnya sih XD soalnya seruuu bisa berkhayal2 nggak jelas gitu:)))

*monolog*

oke langsung aja ya, ini dia. jangan kaget. karena random.


REISHA
 oleh: Ratri Sekar W – XA/23 (hazeg nomer absen /?)

Ini sudah H-7 menuju Ujian Nasional, dan hal pertama yang ku fikirkan setelah bangun pagi ini adalah; perdebatan ku dengan orang tuaku semalam, yang tidak mau mengantarku ke sekolah lagi setiap hari, atau bahkan sudah lupa bahwa aku adalah anak mereka.
Well, mungkin tidak sedramatis itu, aku hanya melebih-lebihkan nya sedikit dengan sewajar-wajarnya, atau mungkin tidak.
Orang tuaku baru saja mendapat tawaran proyek besar di perusahaan mereka, yang dengan bijaknya mereka terima padahal anak semata wayangnya 7 hari lagi akan melaksanakan Ujian Nasional, yang tidak lain menjadi salah satu faktor penentu masa depannya. Alhasil, mereka mendeklarasikan bahwa tidak akan bisa mengantar dan menjemputku ke dan di sekolah selama 1 bulan kedepan. Dan dengan sangat rasionalnya menyuruhku untuk naik angkut sekolah untuk pergi ke sekolah setiap harinya.
Sebagai anak yang terbiasa bangun siang dan di antar mobil pribadi yang damai dan jauh dari jangkauan dunia luar, aku jelas tak bisa menerimanya begitu saja, walaupun pada akhirnya —karena tidak mau jadi anak durhaka — terpaksa menuruti keinginan orang tua tercinta.
Aku mematikan alarm hapeku dengan sebal, lalu segera mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi, masih dengan mata setengah tertutup. Setelah selesai makan dan sikat gigi dengan tingkat ke ikhlasan 0,1%, aku segera mengambil tas dan memakai sepatu, lalu berjalan kaki menuju halte angkut sekolah, kendaraan luxurious baruku yang akan menemaniku 2 minggu kedepan.
Angkut sekolah adalah program pemerintah di kotaku, seperti angkut-angkut biasanya, hanya saja angkut ini khusus untuk para pelajar dan memiliki halte sendiri di setiap sudut kota. Betapa baik hatinya mereka mengadakan program yang sangat membantu ini.
Setelah menunggu beberapa menit, angkut tumpanganku akhirnya datang. Aku segera melangkah masuk dengan muka terlipat dan segera mencari tempat duduk.
Mataku tertuju pada satu tempat duduk kosong di kursi dobel deretan agak belakang, ku lihat seseorang seumuranku sudah duduk di salah satunya.
“permisi, boleh duduk disini nggak?” kataku pelan, takut mengganggu orang itu yang sepertinya sedang asyik melihat keluar jendela. Ia seraya menoleh ke arahku dan tersenyum .
“boleh laah, sini duduk” jawabnya ramah. Aku pun segera duduk dan membenarkan posisi tasku. Hening sejenak, ia tiba-tiba angkat bicara.
“baru pertama kali naik ya?” tanyanya ramah.
“hehe iya nih, kamu udah sering?” jawabku sambil balas bertanya, basa-basi.
“pantesan baru liat sekarang, hmm iya lumayan juga, habis nggak ada kendaraan” jawabnya lagi.
“ohh..” jawabku seadanya.
“hehe, kenalin ya, aku Reisha” ujarnya lagi lalu mengulurkan tangannya.
“eh iya, aku Dea” jawabku seraya menjabat tangannya.
Percapakan kami pun berlangsung seru. Ternyata, Reisha anaknya asik juga. Ia memiliki banyak topik untuk kami bicarakan berdua, yang membebaskan ku dari kebosanan di angkutan ini. Ia juga sempat menanyakan rumah dan sekolahku. Ternyata, kami memang seumuran. Ia juga kelas 12, sama sepertiku.
Percakapan kami pun terputus ketika angkut berhenti di sebuah sekolahan. Mungkin sekolahan Reisha. Ia segera pamit padaku lalu turun.
“ini sekolahmu Reis?” tanyaku ketika ia bersiap-siap turun.
“iya Dey, duluan yaa” katanya sambil tersenyum. Aku melambaikan tangan dari dalam angkut saat dia sudah berdiri di depan sekolahnya.
Aku melihat ke belakang, perlahan menjauh dari sekolahan itu. Aku melihat Reisha tidak segera masuk kesana, mungkin menunggu teman. Angkutan pun terus melaju, aku kembali sendirian dan fokus mengamati jalan di depan.
****
Sudah hampir seminggu aku menjalani hari-hariku tiap pagi dengan angkutan kesayangan, di temani Reisha yang selalu setia bercerita seru denganku. Kadang-kadang saling curhat tentang sekolah, berbagi keluh kesah sehari-hari, sampai belajar bareng materi-materi ujian nasional. Naik angkot jadi tak seburuk yang ku bayangkan, bahkan lebih seru. Aku jadi lebih bersemangat sekolah dan belajar karena Reisha dan cerita-cerita serunya, ia memang pandai bercerita.
Hari ini adalah hari ke 5 sejak hari pertama aku naik angkot sekolah, dan setelah hari minggu besok, senin nya aku dan semua anak kelas 12 di seluruh pelosok negri akan melaksanakan ujian nasional, termasuk Reisha.
Angkot yang ku tunggu sudah datang, aku segera masuk dan mendapati Reisha sudah duduk di tempat biasa. Dengan riang gembira aku menyapanya, tapi sepertinya hari ini ia sedang tidak enak badan, mukanya pucat sekali.
“lu sakit Reis? Lesu amat” jawabku sok berlogat jakarta dengannya, berusaha menghiburnya.
“iya nih, ga enak badan gue” jawabnya lesu, tapi tetap tersenyum walau bibirnya sepucat salju.
“kebanyakan mikir UN sih, udah gak usah di pikirin, kamu pasti bisa Reis, kan kamu pinter” seruku memberi semangat. Ia hanya terdiam sambil tersenyum, sepertinya ia memang sedang tidak enak badan hari ini.
Di perjalanan, Reisha tetap setia mengobrol denganku seperti biasanya, hanya saja hari ini dia yang lebih banyak mendengarkanku karena sedang tidak enak badan.
Di tengah-tengah asyiknya ngobrol, seperti biasa angkutan kami berhenti di depan sekolah Reisha. Dengan berat hati aku melepasnya pergi, atau lebih tepatnya turun angkot dan masuk ke sekolahnya seperti apa yang memang seharusnya ia lakukan.
“Dey, aku duluan yaa, semoga besok sukses UN nya. Jangan lupa berdoa, jangan kangen aku ya” katanya sambil melambai ke arahku lalu turun dari angkot. Aku balas lambaiannya, jangan kangen? Memangnya dia mau kemana? Besok senin kan kita masih ketemu? batinku.
Keherananku terlupakan sejenak ketika melihatnya dari dalam angkot yang semakin menjauh, ia masih saja tidak langsung masuk ke sekolah, seperti menunggu seseorang. Mungkin tadi ia hanya bercanda. Angkot ku terus melaju.
****
Hari penderitaanku tiba, hari pertama Ujian nasional. Hari ini orangtuaku sedikit berbaik hati padaku dan menawarkan tumpangan ke sekolah, karena ini adalah hari pertama anaknya akan menderita selama kurang lebih 3 hari. Aku menerimanya dengan senang hati, walaupun agak tidak enak pada Reisha karena hari ini tak bisa menemaninya naik angkutan. Baru saja ku niatkan untuk pamit pada Reisha selama satu hari lewat sms, tapi barusadar kalau selama ini kita tidak pernah bertukar nomer hape. Jadi ku kurungkan niatku dan berharap bahwa dia akan baik-baik saja.
****
Hari ini aku akan kembali menggunakan angkot sekolah. Setelah kemarin berjuang dengan 2 mapel ujian nasional yang agak membuat ku kehilangan nafsu makan, hari ini semangatku agak pulih mengingat aku akan bertemu Reisha di angkot.
Angkutan ku segera tiba, aku bergegas naik dan menuju tempat kami duduk biasanya. Ada yang berbeda, Reisha tidak ada disana.
****
Reisha juga tidak ada disana hari ini, hari terakhir ujian nasional. Aku jadi teringat kata-kata terakhirnya saat kita terakhir kali bertemu, mungkin, dia memang mau vakum naik angkot saat ujian nasional, seperti aku pada hari pertama ujian nasional. Karena penasaran dan sedikit kawatir, aku berniat mencarinya besok pagi, mumpung tidak ada kegiatan pagi yang harus ku lakukan, dan aku bisa ke sekolah siangnya.
Setelah berpisah dengan teman-temanku di sekolah, aku memutuskan untuk pulang naik angkutan, berhubung tukang ojek yang biasa mengantarku pulang sedang ada job di tempat lain.
Setelah angkot tiba, aku segera menempati tempat duduk langgananku seperti biasa. Aku bergeser ke tempat duduk Reisha di sebelahnya yang kosong, mencoba merasakan kehadiran Reisha disana, yang memang mustahil karena Reisha tidak ada lagi disana seperti hari-hari yang lalu.
Baru setengah perjalanan, aku merasa ada sesuatu yang ku duduki. Ku raba dasar tempat duduk ku dengan tangan, ada sebuah kertas disana.
Aku mengambilnya lalu membolak-baliknya, sepertinya cuma kertas kosong, mungkin seseorang malas membuangnya dan meninggalkannya disana. Belum sempat aku melihatnya lebih jauh, kertas itu terjatuh dari tanganku.
Seseorang datang ketika aku berusaha mengambil kertasnya yang terjatuh agak jauh di bawah bangku depan.
“boleh duduk disini nggak?” tanyanya ramah sambil tersenyum, yang tentunya ku iyakan.
“boleh laah, silahkan duduk” jawabku mempersilahkannya duduk di sebelahku. Aku memperhatikan anak itu sejenak, sepertinya aku kenal seragamnya.
Tiba-tiba mataku tertuju pada lambang sekolah yang ada di lengan kiri kemeja anak itu, itu kan lambang sekolahan Reisha? Batinku. Aku yang tadinya bimbang langsung bersemangat, barangkali ia tau dimana Reisha. Ku beranikan diri untuk bertanya.
“kamu dari SMA Bangsa ya?” tanyaku sekedar basa-basi,
“iyaa” jawabnya singkat,
“kok tadi naik nya disana? Kayaknya SMA Bangsa masih agak jauh dari sini” tanyaku memastikan lagi, mengingat anak tadi memang tidak naik dari depan SMA Bangsa.
“ohh iya, tadi aku dari sekolah mampir ke rumah temen dulu, hehe jadi naiknya dari sana, ini mau langsung pulang” ia tersenyum, aku jadi merasa agak sungkan, sepertinya aku terlalu kelewatan bertanya, aku hanya mengangguk lalu diam sejenak.
Beberapa saat kemudian aku memberanikan diri bertanya lagi, ini kesempatan yang tak boleh ku lewatkan kalau mau bertemu dengan Reisha lagi.
“eh, kamu kelas berapa? Aku punya temen namanya Reisha disana, kamu kenal nggak?”, tanyaku hati-hati.
Ia tampak agak kaget, seketika raut wajahnya berubah. Apa yang terjadi?
“maaf, kamu belum tau ya?” jawabnya dengan wajah sedih,
“tau apa?” tanyaku bingung,
“kamu yang sabar yaa.. Reisha meninggal sekitar 2 minggu yang lalu, dia kena serangan jantung di angkot, kayaknya hari itu dia lagi drop banget mikirin UN.. dia takut banget kalau nggak lulus, padahal dia pinter” jawabnya lirih.
Aku shock. Meninggal? 2 minggu lalu? Bahkan seminggu lalu aku baru berkenalan dengannya dan ngobrol selama seminggu penuh di angkot ini. Aku masih tak percaya.
“astaghfirullah, Reisha? Kamu serius? Aku baru aja kenalan sama dia seminggu lalu disini, kamu tadi bilang dia meninggal 2 minggu lalu?”
“ha? Apa aku salah orang? Tapi setauku di SMA bangsa Reisha cuma 1, masa aku bohong kalau dia udah meninggal.. aku dateng ke pemakamannya kok, kebetulan kami seangkatan” jawabnya lagi, dengan raut agak bingung.
Angkot tiba-tiba berhenti, ternyata orang di sebelahku yang mengaku teman Reisha sudah sampai di tujuan. Ia segera berpamitan dan sekali lagi menyampaikan maaf atas kepergian Reisha, aku hanya bisa diam dan mengucapkan terimakasih padanya atas informasi yang samasekali tak bisa ku cerna.
Aku terdiam sejenak setelah dia pergi, masih tak percaya apa yang terjadi barusan. Mana yang benar?
Tiba-tiba, aku teringat kertas yang aku temukan dari tempat duduk Reisha tadi. Dengan susah payah ku ambil kertas itu dari bawah bangku depan. Aku membolak-baliknya lagi, dan ternyata disana terdapat pesan. Perlahan, aku mulai membacanya.  
Dey, mungkin kamu sudah dengar semua tentang aku. Maaf ya, kalo bikin kamu takut. Makasih ya udah mau nemenin aku selama seminggu ini, mungkin habis ini kita nggak bisa ketemu lagi. Kamu tetep semangat yaa, maaf aku nggak pernah cerita apa-apa soal ini ke kamu. Semoga hasil UN mu bagus dey, wakili aku yang nggak sempat ikut UN karena kecerobohan ku sendiri – Reisha.

Aku mematung setelah membaca isi pesan misterius itu, bersamaan dengan angkotku melintasi SMA Bangsa. Ku lihat Reisha masih menunggu di depan sekolahnya yang sudah sepi, ia tersenyum dan melambai ke arahku dengan wajah pucat pasi.  

4 comments:

MAHARDINI said...

bagus bangeeetttt!!
kok rada serem ya._. kaget banget pas tau dia meninggalnya udah 2 minggu :'( aaaa sedih :"""

rat kamu jangan tinggalin aku ya, aku juga gak tinggalin kamu kok :3 //INIAPA //abaikan=))

Annisa Farah Firdausy said...

KEREN BANGETTT>< drama sama misteri nya dapet. Bikin cerpen lagi dongg :D

Rasya Mapen said...

Ratriiii ini cerpennya keren bangeeeetttt xDD tapi sereem QAQ *ras jangan alay* bikin cerpen lagi doong request ada yang namanya rasya yaa(?) *ras=))))

Ratri Sekar~ said...

@mahar : gatauuu kenapa aku bisa bikin cerita serem gini HUAHAHAH=)))) aku suram........./oke

har kenapa jd tiba2 gitu XDD endak lah aku akan selalu ada disisimu ea:"333 /ea XD

@farah : aaa thanks farah XDDD kamu demen cerita misteri ya?:)) insyaallah ya.......kalau gak..........mager /oke /tetep

@rasya : heeeeh =)))) wkwk iyaa nanti kapan2 aku bikin XDD makasih yaaa XD